Monday, April 3, 2017

Kembali



Pagi ini aku mencoba mengembalikan keperuntungan ku yang pada masa lalu mungkin pernah aku hentikan gara-gara aku tidaknya memiliki waktu untuk sendiri, atau tanpa merenung sesuatu dengan prospektif berbeda. Pagi ini ditemani sebuah kopi pait dengan gelas putih di samping kiri ku berbau harum-haruman kamar yang baru saja aku semprotkan, dan dengan bunyi halus ketikan dari keyboard laptop milik ku yang sudah tahunan ku simpan, ku pergunakan hanya untuk main game saja.
Hari ini aku mencoba mengembalikan kepuruntungan ku kembali yang mana dulu banyak ku tuliskan cerita-cerita yang ku jabarkan, seperti sakitnya rasa patah hati yang sering ku tulisakan, hingga kuatnya patah hatiku membuat ku tertawa bak layaknya orang yang tidak pernah tertawa. yah ternyata itu semua sudah sangat jauh ku lalui, waktu celana sekolah ku masih merah dimana semua bermula.
Sejak celana ku masih merah, aku sudah hafal benar bagaimana rasa patah hati terdalam, aku sudah sangat terlatih dalam hal patah hati, jauh hari sebelum patah hati pun aku sudah tau bagaimana rasanya, bagaimana sesaknya. semua cerita pada celana merah pun ku rangkum semua aku tulis pada saat celana merah ku ku lepas, dan terganti dengan celana biru baru. Pada jaman itu akses menulis jadi lebih mudah, tanpa menulis di buku diary lagi, dimana hanya menggunakan Handphone saja kita bisa menulis untuk cerita panjang ataupun pendek, aku sangat suka diam terpaku mencoba menyusun gambaran yang terlintas di kepala dan ku alirkan saja ke media, itu jujur tanpa ragu. sampai hari dimana tulisan ku di baca seorang teman sang pembaca pertama mengatakan padaku “teruskan bercerita karna kamu orang yang negatif”, yah biasa lah rata-rata seniman, mereka bersifat negatif mereka menemukan ketidak bagusan dan menggali kenegatifan dirinya menjadi suatu karya.
berawal dari kegemaran ku “patah hati” aku yang dulu di masa celana masih biru aku bergaul  layaknya pemuda-pemuda yang lain riang gembira, namun dengan fisik ku yang gendut hitam dan hanya suka memandang, hanya sekedar mengaggumi, aku memang jelas masuk di kreteria manusia yang bersifat sering “disakiti”.
 Terkadang kita itu munafik sungguh sangat munafik, pada jaman kita SMP timeline medsos yang dahulu hingga sekarang mengatakan “jangan memandang hanya dari fisiknya saja, tapi pandanglah isi nya” dengan fikiran ku yang negatif ini, aku langsung menterjemahkan, mereka semua bohong mana ada yang bisa memandang ku dengan kedua matanya, mana ada yang bisa memandangku dengan hatinya terbuka dan menerimaku apa adanya tanpa melihat latar belakang fisikku yang sungguh aku sesali ini. seringkali aku berfikiran begitu bahkan tiap detik, membuat ku jadi pemurung dan pemarah. tidak ada gairah dan hanya suka marah-marah.
Dari keadaan tersebut aku memang jujur sedemikian lemahnya diriku tentang “patah hati” hal yang tidak aku ketahui memang menjauh dari kehidupan ku hingga akhir  masa celana biru.
celana abu ku kini sangat mengenaskan beberapa jenis “patah hati” aku dapatkan seolah aku mempelajari jenis-jenis patah hati yang baru, seolah aku jadi peneliti, kalo dulu aku patah hati ya karna aku cuman bisa memandang dan mengaggumi tanpa di beri imbalan, kini semua itu bertambah dari ya ditikung temen curhat temen sepermainan, gebetan punya banyak gebetan, pacar balikan sama mantan, jadian 3 hari langsung di selingkuhin, ngincar udah lama malah keduluan kelas sebelah,3 kali nembak alasannya mau fokus belajar tapi setelah teman gue nembak tau-tau jadian, diselingkuhi di depan mata, hadiah aku kasih langsung di buang, di putusin di depan pacar barunya, di putusin karna fokus belajar, yang lebih parah gak ada, semua itu udah jadi makanan pokok, itu udah biasa.
Mengenaskan memang “patah hati” jaman pun semakin baru banyak sekali intrik-intrik “patah hati” yang harus di lalui manusia.
Hingga malam sebelum aku menulis tulisan ini aku merasa “patah hati” kembali, setelah sekian lama aku tidak merasakan nya. entah mengapa insting patah hati ku tiba-tiba saja ada, perasaan positif yang aku peggang teguh, yang sangat-sangat lama aku pelajari bertahun-tahun, yang membuat aku tidak menulis lagi yang membuat ku jauh dari seni seperti yang aku ceritakan di atas tadi, yang membuat perasaan ku gembira setiap tahun. tapi sekarang entah mengapa kembali dengan ribuan tanya yang aku rasakan pada pagi ini dengan kopi pait di samping kiri membuat ku berdetak sepagi ini. malam tadi aku memandang bulan bentuknya sabit namun tidak terlalu terang, ditemani suara yang sangat jarang aku dengarkan di musim yang baru ini, suara jangkrik. entah mengapa begitu merdu malam tadi, berbarengan dengan turunnya keran air yang sengaja aku buka untuk membasahi muka, malam tadi aku seperti mersakan “patah hati” yang teramat dalam dan sungguh sangat ku sesali.
ternyata selama ini aku menuliskan sajak-sajak Imaji setelah bertahun-tahun tidak bercerita, aku “larut” terlalu lama hanya untuk menuliskan sajak-sajak yang semua sungguh ku anggap sebagai hayalan belaka, hanya sekedar penenang hati dikala sedih ku melanda, hanya sebagai senjata ku dikala sombongnya diriku yang mengiyakan ego bodoh ku seolah berbisik “ayo cepat tulisakan kamu sedang patah hati”, itu aku lepaskan saja tapi tidak semua, aku cari-cari kata ku rangkai sedemikian rupa, ku palsukan kalimat yang kurasa kulebih-lebihkan, ku bikin se instan-instannya agar mewakili perasaan bodoh ku kala-kala lalu. aku suka saja membuat diriku terpaku dengan tulisan-tulisan singkat yang kebanyakan berarti ambigu, aku suka saja duduk diam termenung 2 menit menuis sajak ku dengan singkat, aku suka saja membuat kata melambung kan kalimat-kalimat sebagai senjataku, aku suka saja membaca sajak-sajak orang lain dengan penuh hikmat padahal tidak sehati, aku suka saja tiap kali ku kena masalah langsung sajak ku bermain bagai hulu ledak yang siap menguncang dunia, aku suka saja tiap kali ku jatuh diri aku langung mnunggangi sajak-sajak orang lain dan menjadi senjata kuat ku, aku suka saja berontak dengan sajak-sajak ku menjadi liar tak berperi kemanusiaan, ternyata mereka tidak tau kalau ber”cerita” itu lebih menyenangkan, membuat ribuan paragraf dan kata, serta tertuju pada kalimat indah tidak ambigu, tanpa membuat suatu kalimat ambigu yang hanya tak seorang pun tau bahkan yang menulis sendiri pun tak tau, biar saja mereka menerka tulisan ambigu ku dan aku menyesali perbuatan itu. sekali lagi pagi menjelang siang ini dengan segelas kopi dan hawa dingin ini aku tersadar akan kelakuan ku dan aku sungguh “patah hati” dengan perilaku ku.
Fahri.   

0 Mohon dikomentarin :

Post a Comment