Pagi ini aku
mencoba mengembalikan keperuntungan ku yang pada masa lalu mungkin pernah aku
hentikan gara-gara aku tidaknya memiliki waktu untuk sendiri, atau tanpa
merenung sesuatu dengan prospektif berbeda. Pagi ini ditemani sebuah kopi pait
dengan gelas putih di samping kiri ku berbau harum-haruman kamar yang baru saja
aku semprotkan, dan dengan bunyi halus ketikan dari keyboard laptop milik ku
yang sudah tahunan ku simpan, ku pergunakan hanya untuk main game saja.
Hari ini aku
mencoba mengembalikan kepuruntungan ku kembali yang mana dulu banyak ku
tuliskan cerita-cerita yang ku jabarkan, seperti sakitnya rasa patah hati yang
sering ku tulisakan, hingga kuatnya patah hatiku membuat ku tertawa bak
layaknya orang yang tidak pernah tertawa. yah ternyata itu semua sudah sangat
jauh ku lalui, waktu celana sekolah ku masih merah dimana semua bermula.
Sejak celana ku
masih merah, aku sudah hafal benar bagaimana rasa patah hati terdalam, aku
sudah sangat terlatih dalam hal patah hati, jauh hari sebelum patah hati pun aku
sudah tau bagaimana rasanya, bagaimana sesaknya. semua cerita pada celana merah
pun ku rangkum semua aku tulis pada saat celana merah ku ku lepas, dan terganti
dengan celana biru baru. Pada jaman itu akses menulis jadi lebih mudah, tanpa
menulis di buku diary lagi, dimana hanya menggunakan Handphone saja kita bisa
menulis untuk cerita panjang ataupun pendek, aku sangat suka diam terpaku
mencoba menyusun gambaran yang terlintas di kepala dan ku alirkan saja ke media,
itu jujur tanpa ragu. sampai hari dimana tulisan ku di baca seorang teman sang
pembaca pertama mengatakan padaku “teruskan bercerita karna kamu orang yang
negatif”, yah biasa lah rata-rata seniman, mereka bersifat negatif mereka
menemukan ketidak bagusan dan menggali kenegatifan dirinya menjadi suatu karya.
berawal
dari kegemaran ku “patah hati” aku yang dulu di masa celana masih biru aku
bergaul layaknya pemuda-pemuda yang lain
riang gembira, namun dengan fisik ku yang gendut hitam dan hanya suka
memandang, hanya sekedar mengaggumi, aku memang jelas masuk di kreteria manusia
yang bersifat sering “disakiti”.
Terkadang kita itu munafik sungguh sangat
munafik, pada jaman kita SMP timeline medsos yang dahulu hingga sekarang
mengatakan “jangan memandang hanya dari fisiknya saja, tapi pandanglah isi nya”
dengan fikiran ku yang negatif ini, aku langsung menterjemahkan, mereka semua
bohong mana ada yang bisa memandang ku dengan kedua matanya, mana ada yang bisa
memandangku dengan hatinya terbuka dan menerimaku apa adanya tanpa melihat
latar belakang fisikku yang sungguh aku sesali ini. seringkali aku berfikiran
begitu bahkan tiap detik, membuat ku jadi pemurung dan pemarah. tidak ada
gairah dan hanya suka marah-marah.
Dari
keadaan tersebut aku memang jujur sedemikian lemahnya diriku tentang “patah
hati” hal yang tidak aku ketahui memang menjauh dari kehidupan ku hingga akhir masa celana biru.
celana abu ku kini
sangat mengenaskan beberapa jenis “patah hati” aku dapatkan seolah aku
mempelajari jenis-jenis patah hati yang baru, seolah aku jadi peneliti, kalo
dulu aku patah hati ya karna aku cuman bisa memandang dan mengaggumi tanpa di
beri imbalan, kini semua itu bertambah dari ya ditikung temen curhat temen
sepermainan, gebetan punya banyak gebetan, pacar balikan sama mantan, jadian 3
hari langsung di selingkuhin, ngincar udah lama malah keduluan kelas sebelah,3
kali nembak alasannya mau fokus belajar tapi setelah teman gue nembak tau-tau
jadian, diselingkuhi di depan mata, hadiah aku kasih langsung di buang, di
putusin di depan pacar barunya, di putusin karna fokus belajar, yang lebih
parah gak ada, semua itu udah jadi makanan pokok, itu udah biasa.
Mengenaskan
memang “patah hati” jaman pun semakin baru banyak sekali intrik-intrik “patah
hati” yang harus di lalui manusia.
Hingga malam
sebelum aku menulis tulisan ini aku merasa “patah hati” kembali, setelah sekian
lama aku tidak merasakan nya. entah mengapa insting patah hati ku tiba-tiba
saja ada, perasaan positif yang aku peggang teguh, yang sangat-sangat lama aku
pelajari bertahun-tahun, yang membuat aku tidak menulis lagi yang membuat ku
jauh dari seni seperti yang aku ceritakan di atas tadi, yang membuat perasaan
ku gembira setiap tahun. tapi sekarang entah mengapa kembali dengan ribuan
tanya yang aku rasakan pada pagi ini dengan kopi pait di samping kiri membuat
ku berdetak sepagi ini. malam tadi aku memandang bulan bentuknya sabit namun
tidak terlalu terang, ditemani suara yang sangat jarang aku dengarkan di musim
yang baru ini, suara jangkrik. entah mengapa begitu merdu malam tadi,
berbarengan dengan turunnya keran air yang sengaja aku buka untuk membasahi
muka, malam tadi aku seperti mersakan “patah hati” yang teramat dalam dan
sungguh sangat ku sesali.
ternyata selama
ini aku menuliskan sajak-sajak Imaji setelah bertahun-tahun tidak bercerita,
aku “larut” terlalu lama hanya untuk menuliskan sajak-sajak yang semua sungguh
ku anggap sebagai hayalan belaka, hanya sekedar penenang hati dikala sedih ku
melanda, hanya sebagai senjata ku dikala sombongnya diriku yang mengiyakan ego
bodoh ku seolah berbisik “ayo cepat tulisakan kamu sedang patah hati”, itu aku
lepaskan saja tapi tidak semua, aku cari-cari kata ku rangkai sedemikian rupa, ku
palsukan kalimat yang kurasa kulebih-lebihkan, ku bikin se instan-instannya
agar mewakili perasaan bodoh ku kala-kala lalu. aku suka saja membuat diriku
terpaku dengan tulisan-tulisan singkat yang kebanyakan berarti ambigu, aku suka
saja duduk diam termenung 2 menit menuis sajak ku dengan singkat, aku suka saja
membuat kata melambung kan kalimat-kalimat sebagai senjataku, aku suka saja
membaca sajak-sajak orang lain dengan penuh hikmat padahal tidak sehati, aku
suka saja tiap kali ku kena masalah langsung sajak ku bermain bagai hulu ledak
yang siap menguncang dunia, aku suka saja tiap kali ku jatuh diri aku langung
mnunggangi sajak-sajak orang lain dan menjadi senjata kuat ku, aku suka saja
berontak dengan sajak-sajak ku menjadi liar tak berperi kemanusiaan, ternyata
mereka tidak tau kalau ber”cerita” itu lebih menyenangkan, membuat ribuan
paragraf dan kata, serta tertuju pada kalimat indah tidak ambigu, tanpa membuat
suatu kalimat ambigu yang hanya tak seorang pun tau bahkan yang menulis sendiri
pun tak tau, biar saja mereka menerka tulisan ambigu ku dan aku menyesali
perbuatan itu. sekali lagi pagi menjelang siang ini dengan segelas kopi dan
hawa dingin ini aku tersadar akan kelakuan ku dan aku sungguh “patah hati”
dengan perilaku ku.
Fahri.
0 Mohon dikomentarin :
Post a Comment